SANG ANAK BATU

 

SANG ANAK BATU

OLEH NUR AISAH

 

Ibnu Hajar Al Atsqolany tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu. Ayahnya sudah meninggal sejak Ia  berumur 4 tahun dan ibunya pada saat Ibnu Hajar Al Atsqolany balita. Sejak ditinggal orang tuanya dia diasuh kakak tertuanya  yang bernama A zaky  AlKharubi.

Pada masa pendidikannya ,  semula ia seorang santri yang bodoh.Ia belajar pada seorang kiyai beberapa tahun. Nmun ia belum juga bisa baca tulis. Hingga akhirnya ia berputus asa. Ahirnya Ibnu Hajar Al Asqolany minta izin kepada gurunya untuk pulang ke rumahnya.  Sang kiyai berpesan sebelum pulang, supaya terus belajar menimba ilmu di rumahnya.

Akhirnya Ibnu Hajar pulang ke rumahnya. Sesampainya di tengah jalan, didapatinya hujan lebat yag terpaksa ia berteduh di sebuah gua. Karena hujannya semakin lebat, Ibnu Hajar Al Asqolany mmutuskan untuk masuk ke dalamnya. Didalam goa Ibnu Hajar Al Asqolany  mendengar suara gemerincik air. Dengan penasaran  didekatinya sumber suara itu.

Ternyata Ibnu Hajar mendapati sebongkah batu yang  terkena  air hujan. Dilihatnya batu itu berlubang  karena hantaman air hujan yang cukup lama. Ibnu Hajar pun berfikir dan merenung  . Batu yang sekeras ini bisa berlubang  karena hantaman air hujan yang bertahun-tahun. Padahal hati dan pikiranku tidak sekeras ini ? berarti saya harus lebih lama belajar lagi. Pikirnya.

Dari  pengalamannya tersebut, akhirnya Ibnu Hajar Al Asqolany memutuskan untuk tidak jadi pulang ke rumahnya. Ia membelokan arah kembali ke pondoknya dan  berniat mau belajar menuntut ilmu dengan lebih rajin dan giat lagi. Sang kiyaipun mengiyakannya. Di  Pondok ia belajar sangat rajin tanpa kenal  lelah. Denga usaha yang maksimal, ditambah bekal kecerdasan yang dimilikinya,akhirnya Ibnu Hajar Al Asqolany menjadi orang  yang banyak ilmu dan banyak  mengarang  kitab   yang pada akhirnya  menjadi  seorang  ulama besar. Dari pengalaman  di gua yang menagmbil pelajaran dari sebongkah batu itulah,  akhirnya beliau dikenal dengan nama Ibnu Hajar Al Asqolany yang berarti anak batu.

Ada pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut

  1. Didalam mencari  ilmu diperlukan adanya kecerdasan.  Dengan memiliki  akal  yang sempurna maka orang tersebut mampu mengalahkan  rintangan yang menghadang. Sebagai contoh Ibnu Hajar Al Asqolany bisa mengambil pelajaran sekaligus menagmbil keputusan  dari kejadian  yang dijumpainya karena adanya kecerdasan – akal yang sempurna.
  2. Didalam mencari ilmu dibutuhkan adanya kesabaran menghadapi apapun yag terjadi.Termasuk sulitnya menerima pelajaran, capek , bosan dan sebagainya.Jika seseorang  berusaha sunggh-sungguh maka ilmupun akan diperolehnya.
  3. Didalam mencari ilmu dibutuhkan ketekunan. Seseorang  yang  rajin, istiqomah dalam belajar insyaAllah ilmupun akan diperolehnya . Malas adalah sifat yang harus disingkirkan.
  4. Didalam mencari ilmu, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar apalagi untuk  mendapatkan ilmu  secara  utuh dan mendalam. Waktu yang panjang mutlak diperlukan. Dengan begitu, seseorang akan mengetahuinya mulai dari dasar-dasarnya sampai  yang paling tinggi.
  5. Didalam mencari  ilmu ,dibutuhkan bimbingan seorang guru. Karena  dari  lisan seorang  guru bisa diketahui dengan jelas  apa-apa yang tidak kita ketahui  .Walaupun sumber ilmu bukan bisa didapatinya dari yang lain, tapi adanya guru mutlak diperlukan.
  6. Yang tidak kalah pentingnya didalam mencari imlu membutuhkan  biaya. Walaupun sifatnya relatif.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMUDA HEBAT, PEMUDA YANG CERDAS

BERPURA-PURA TULI

PEMUDA HEBAT, PEMUDA YANG SHOLIH DAN SHOLIHAH